Tlp.085222533045.sms/wa.
Hub.081222799161
Saya mendatangi tempat penyewaan motor yang saya pilih. Setelah memilih motor yang saya yakin cukup tangguh untuk perjalanan jauh, saya langsung tancap ke Dago Pakar Atas. Mau kemana saya? Saya mau lihat Bandung dari atas, sore-sore yang dingin. Maka sampailah saya di Lisung Resto. Dari situ saya bisa melihat Bandung dengan luas. Makanan di sana juga enak. Tapi saya lagi tidak me-review kuliner di situ, jadi sambil menikmati sore yang dingin, saya mengecap secangkir coklat panas.
Lisung Resto ini tidak jauh dari Bukit Bintang. Tujuan saya mengambil motor sore hari, supaya bisa menikmati sore yang dingin di Dago Pakar Atas sekaligus berfoto-foto ria di Bukit Bintang. Tapi alangkah sedihnya saya ketika selesai memotret di Lisung Resto, dan menuju Bukit Bintang, tak ada apa-apa di sana. Dulu memang tempat ini ramai dengan pengunjung yang ingin melihat Bandung di malam dari dari spot ini, sekaligus berpose dengan background lampu-lampu yang dibentuk seperti bintang raksasa. Tempat itu juga sekarang kurang lebar untuk melihat lanskap Bandung di waktu malam yang tampak seperti titik-titik bintang-bintang di kejauhan. Karena ada bangunan dengan tembok yang dibangun di kanan kiri dari tempat orang biasa duduk untuk menikmati lanskap malam, saya tak jadi memotret. Sedih.
Baca Juga: 5 Punthuk Dekat Candi Borobudur untuk Menikmati Sunrise
Tapi saya tidak putus asa. Saya memutuskan untuk muter-muter cari spot bagus. Maka pergilah saya ke Warung Inul. Tempat ini sering didatangi para mahasiswa yang ingin makan murah sekaligus kenyang dan enak, sekaligus menikmati dinginnya malam di pegunungan. Sayangnya terlalu penuh orang di sana. Saya tak melihat ada tempat duduk kosong untuk sekadar makan roti bakar dan minum teh atau kopi. Tidak jauh dari Warung Inul ada spot untuk memotret Bandung di waktu malam, tapi masih sempit buat saya yang suka dengan lanskap lebaaarrrr.. Puas lihatnya kalau bisa lebaarr sekali. Oya, sebenarnya ada spot bagus juga di Takigawa Resto, tidak jauh dari Lisung Resto, tapi saya sudah kenyang, ‘ngapain ke situ kalau cuma moto doang trus ‘nggak beli apa-apa? Bisa disemprot yang jualan nanti saya. Sebenarnya di situ juga bagus sekali spot untuk lihat Bandung, siang maupun malam. Yah siap-siap merogoh kocek cukup besar kalau ke sini. Bukan harga mahasiswa sih, tapi kalau sekali-sekali saja ingin ke sini ya gak papalah. Sesuaikan saja kondisi keuangan Klikers.
Tak menyerah juga dengan mencari spot foto, saya meluncur ke Gedung Sate. Nah di sini saya lumayan terhibur, karena ada satu spot foto yang tercapai. Di lapangan depan Gedung Sate banyak anak muda nongkrong untuk sekadar menghabiskan malam. Banyak juga yang foto-foto di situ. Saya jelas mengambil satu frame supaya nggak sia-sia, sewa motor 24 jam. Catet *nggak mau rugi sewa 24 jam!*
Gedung Sate di malam hari
Dari Gedung Sate saya menuju, Jalan Asia Afrika. Nah di sini nih banyak spot menarik malam hari. Sudah tahu ‘kan kalau sepanjang jalan ini direformasi habis sama Ridwan Kamil, walikota Bandung, dalam rangka menyambut Konferensi Asia Afrika ke-60 kemarin. Nah di sini saya bisa banyak cuci mata sambil foto-foto. Banyak banget yang main ke sini kalau malam. Soalnya emang keren sih, spot fotografi di sini. Apalagi ada yang bilang kalau Bandung itu ibukota selfie!
Oke. Hari sudah malam, saya harus pulang tidur.
Baca Juga: Taman Sejarah Bandung, Taman Tematik Baru di Balai Kota Bandung
Menunggu fajar terbit di Tebing Keraton.
Keesokan paginya, saya menunggu sunrise di Tebing Keraton. Jam 5 pagi, dengan motor sewaan, saya sudah nongkrong di tepi tebing untuk menunggu matahari terbit. Lautan kabut di bawahnya yang menutupi huta, indah sekali. Dua jam di Tebing Keraton, setelah puas memotret sunrise dan hutan pinus, saya meluncur ke Taman Hutan Raya Juanda yang masuk dari pintu loket di Maribaya, bukan yang di Dago Pakar. Baru jam 7 pagi, saya adalah orang yang pertama datang ke situ. Cukup membayar Rp. 5000 untuk 1 motor.
Baca juga:
Di Tebing Keraton
Jangan kaget. Saya punya banyak energi kalau sudah ketemu alam. Makanya walau motor bisa masuk sampai ke kedalaman hutan, saya memilih jalan kaki berkilo-kilo untuk menikmati suasana hutan yang tenang, menyegarkan jiwa dan raga. Walau pun ada motor, tapi kesempatan seperti ini harus digunakan untuk berolah raga agar badan tetap fit. Memotret air terjun, memotret cahaya matahari pagi yang menerjang masuk ke hutan, motret kupu-kupu bermotif macan, ah..banyak deh jepretannya.
Cahaya matahari yang menerjang masuk ke antara pepohonan di hutan.
Cahaya matahari yang menerjang masuk ke antara pepohonan di hutan.
Duduk tenang menikmati ketenangan hutan.
Duduk tenang menikmati ketenangan hutan.
Kupu-kupu bermotif macan tutul yang banyak terbang di antara rerumputan.
Kupu-kupu bermotif macan tutul yang banyak terbang di antara rerumputan.
Habis jalan kaki berkilo-kilo, saya memilih untuk melanjutkan ke Gunung Tangkuban Perahu. Masih sanggup? Masiiihhh!… Dari Maribaya, motor sewaan meluncur ke Tangkuban Perahu lewat jalan pintas yang tembus ke De’Ranch. Saya tancap ke Cikole menuju Tangkuban Perahu. Jam 10 pagi, saya sampai di pintu loket masuk Tangkuban Perahu yang bersebelahan dengan kebun teh yang sudah masuk Kabupaten Subang. Karena saya datang bukan hari Sabtu/Minggu, saya harus membayar Rp 20 ribu per orang, ditambah motor sewaan saya harus membayar Rp. 12 ribu. Saya makan siang dulu di sini. Cukup nasi Goreng dan telur. Cuma 13 ribu rupiah. Hemat.
Baca Juga: Traveling Rame-rame, Asyiknya Open Trip atau Sharing Cost?
Nasi Goreng harga 13 ribu rupiah.
Setelah kenyang, motor melaju naik 7 kilo ke Kawah Ratu di Tangkuban Perahu. Di sana matahari sudah naik. Terik. Langit biru sekali, dan beberapa kali, kabut turun menutupi kawah. Indah. Artistik buat fotografi.
Tangkuban Perahu dengan Kawah Ratu di tengahnya.
Tangkuban Perahu dengan Kawah Ratu di tengahnya.
Satu jam di sini, saya pulang ke Bandung, tapi masih singgah di kebun teh sebentar untuk foto-foto. Kabut turun menutupi perjalanan pulang ke Bandung lewat Dago Pakar. Dengan cukup membayar sewa motor 80ribu, tangki bensin penuh, hanya 23 ribu, saya puas 24 Jam Sewa Motor dan Berpetualang di Bandung
Komentar
Posting Komentar